Reklamasi Tumpang Sari ESQ

Reklamasi areal bekas tambang di Provinsi Bangka

Tumpangsari merupakan upaya peningkatan produktivitas lahan, lapangan kerja, ketahanan pangan, penyelamatan dan keamanan kawasan hutan.

ESQ LEADERSHIP TRAINING “CHANGE START WITH ME” PT INHUTANI V

Berita

JURUS LIMA AGENDA

« Back

29 December 2014

Ada lima agenda utama yang membangkitkan kembali Inhutani V dari keterpurukannya. Resolusi konflik lahan,      sebagai salah satu agenda prioritas. Targetnya, menyulap persolan yang sebelumnya, cost centre menjadi        profit centre.

Bagai mengangkat kayu terendam, perumpamaan yang kini sangat tepat untuk menilai apa yang sedang dilakukan manajemen Inhutani V, terhadap perusahaannya yang kini terpuruk dalam. Melalui jurus lima agenda yang dikemas dalam “ Revolusi Bisnis “ manajemen Inhutani V bertekad menjadi perusahaan besar dengan likuiditas baik dan mampu memberikan keuntungan serta kontribusi besar bagi pemegang saham.

Karenanya, melalui pendekatan revolusi bisnis, persoalan yang dihadapi Inhutani V, ini hendaknya dianggap sebagai peluang. Nah, tentu pemahaman seperti itu belum tumbuh di semua staf dan karyawan. Karenanya untuk menumbuhkan itu, setidaknya ada 5 agenda yang diterapkan secara paralel oleh manajemen Inhutani V. Jika tidak demikian, maka gerakan perubahan yang dilakukan, tidak akan menghasilkan apa-apa.

Lima agenda yang dimaksudkan Endro, agenda pertama merestrukturisasi organisasi berikut SDM-nya. Restrukturisasi organisasi ini dinilai sangat penting, mengingat organisasi merupakan alat manajemen untuk mencapai tujuan atau goal yang ingin diraih. Begitupun dengan SDM, tidak ada pilihan lain, kecuali melakukan perampingan sesuai kebutuhan perusahaan.

Dengan menggunakan konsultan manajemen, perusahaan melakukan seleksi berdasarkan uji kompetensi. Alhasil dari 197 karyawan, tersisa 64 orang saja yang siap ditugaskan sesuai kepentingan perusahaan.

Lalu agenda kedua, menyelesaikan perambahan di areal kerja. Metode yang digunakan melaui “ resolusi konflik lahan “. Dalam hal ini manajemen turun langsung, menggali informasi dan berdiskusi dengan berbagai pihak. Berdiskusi, tak sebatas menggali, namun juga menerima masukan, saran solusi menyelesaikan persoalan. Dari berbagai masukan itu, maka pilihan yang tepat untuk menyelesaikan perambahan ini, mengembangkan pola kemitraan dengan menempatkan perambah sebagai mitra Inhutani V.

Terhadap mereka yang belum mau bermitra ini, memang tak ada unsur paksaan. “ Manajemen Inhutani V, lebih fokus pada kelompok masyarakat perambah yang kondusif dilakukan pembinaan secara intensif, sedangkan mereka yang sulit untuk bermitra, kita tinggalkan, “ kata Endro Siswoko. Tentu dengan harapan, suatu saat mereka bisa bergabung menjadi mitra, setelah melihat tetangganya kehidupannya jauh lebih tenang, lebih baik dan berkembang. “ Kesabaran dan konsistensi sikap sangat diperlukan dalam hal ini, “ lanjutnya.

Melalui strategi ini, pada akhirnya seluruh areal di register 42 dan 46 yang dirambah dapat ditarik kembali oleh Inhutani V, dan menjadi areal difinitif, baik de facto maupun de jure, tanpa harus mengubah status kawasan hutan sebagai hutan produksi kata Luther Patiung Direktur PT. Inhutani V yang secara operasional berhadapan dengan masyarakat di lapangan.

Agenda ketiga, mengoptimalkan aset tidak produktif, dan agenda ke empat re-negosiasi kontak kerjasama dengan pihak ketiga. Re-negosiasi ini dianggap prioritas, agar Inhutani V mendapatkan posisi yang proporsional, artinya tidak merugikan perusahaan dalam jangka panjang. Prinsip win-win solution akan diterapkan dalam re-negosiasi ini, khususnya terkait dengan penyelesaian perambahan, terhadap areal kerja yang menjadi lokasi kerjasama Inhutani V dengan masyarakat.

Agenda kelima, berwacana switching portofolio business. Yang terakhir ini, tentu jika perusahaan masih memiliki dana cash memadai yang sumbernya, berasal dari kegiatan optimalisasi aset tidak produktif dan restrrukturisasi perusahaan patungan. “ Seandainya memungkinkan, wacana mencari kegiatan baru yang lebih prospektif, tentu akan dipertimbangkan,”.

Namun demikian prioritas pemanfatan sumber daya yang berasal dari optimalisasi aset tidak produktif dan restrukturisasi perusahaan patungan, lebih kepada mendanai proses “ Revolusi Bisnis “ hingga selesainya pembenahan dan kepastian going concern perusahaan dengan likuiditas yang memadai.

Peluang untuk mendapatkan sumber dana dari optimalisasi aset tak produktifitas ini sangat terbuka. Aset yang ada bisa dijual, tukar guling atau dikerjasamakan dengan pihak ketiga yang potensial. Terhadap perusahaan patungan , jika tidak produktif direstrukturisasi dengan cara divestasi. Pembenahan manajemen, jika dinilai masih punya potensi. Bila perusahaan patungan itu, masih prospek, tapi mitra kerja tak sanggup lagi melanjutkan, maka dilakukan akuisisi.

Pola-pola ini yang akan dilakukan manajemen Inhutani V, terhadap perusahaan patungan, hingga eksistensinya mamapu memberikan nilai kepada perusahaan, “ kata Endro. “ Dan kelima agenda ini, semuanya prioritas, “ tandasnya.

 

SUMBER MAJALAH TROPIS EDISI 07/TAHUN VII DESEMBER 2014 HAL 42-43