Reklamasi Tumpang Sari ESQ

Reklamasi areal bekas tambang di Provinsi Bangka

Tumpangsari merupakan upaya peningkatan produktivitas lahan, lapangan kerja, ketahanan pangan, penyelamatan dan keamanan kawasan hutan.

ESQ LEADERSHIP TRAINING “CHANGE START WITH ME” PT INHUTANI V

Berita

KISAH REVOLUSI BISNIS INHUTANI V

« Back

29 December 2014

Dengan mengaplikasikan “ Revolusi Bisnis “ manajemen Inhutani V mampu bangkit dari keterpurukannya. Kini perusahaan plat merah ini masuk dalam “ 50 BUMN terbaik “.

Penerapan konsep “ Revolusi Bisnis “ oleh manajemen Inhutani V, telah membuat perusahaan ini mampu bangkit dari keterpurukannya yang sangat dalam. Kini perusahaan plat merah yang mengelola Hutan Tanaman Industri seluas 72 ribu hektar di Propinsi Lampung dan Bangka, telah mampu meraup laba lumayan besar. Perusahaannyapun sudah dikategorikan sebagai perusahaan yang sehat dengan skor 78,45.

Tahun lalu, laba sebelum pajak perusahaan yang dirintis Hasjrul Harahap tatkala menjabat Menteri Kehutanan ini, mencapai sekitar 11 miliar lebih. Lalu tahun ini, 2014, keuntungannya diprediksikan bakal mencapai sekitar 15 miliar.

Tak besar memang kalau dibanding dengann perusahaan plat merah lain yang kebanyakan beromset triliunan rupiah. Namun dikelas perusahaan sejenis, BUMN kehutanan, laba yang diraup Inhutani V, justru prestasi gemilang. Sebab, hanya bisa dihitung dengan jari, perusahaan perkayuan, termasuk perusahaan swasta yang hidup layak dalam era reformasi ini.

Dari segi kinerja, Inhutani V mungkin jauh lebih baik ketimbang perusahaan sejenis. Padahal, sebagai BUMN yang dilahirkan untuk mengelola kawasan bekas Hak Pengusahaan Hutan di wilayah Sumatera Bagian Selatan, betapa parahnya kondisi likuiditas perusahaan dalam kurun 15 tahun terakhir. Bahkan, pada posisi 5 tahun silam, 2010, Inhutani V, masih menelan kerugian tak kurang dari 8,8 miliar, dengan kategori perusahaan yang tidak sehat dengan skor hanya 33.

Bukan sebatas rugi yang harus dipikul manajemen Inhutani V, tapi juga beban hutang termasuk berbagai kewajiban yang setiap tahunnya harus dibayar. Dan inipun bukan nilai kecil untuk ukuran perusahaan yang nyaris tidak ada aktivitas. Meskipun tidak dapat melakukan aktivitas di dalam areal kerjanya tetapi beban pembayaran PBB tetap harus dibayarkan sekitar Rp. 380 juta setiap tahun. Bahkan pada posisi akhir 2012, inhutani V masih memikul hutang kewajiban PBB tak kurang dari Rp. 4,4 miliar.

Kondisi perusahaan yang terpuruk dan beban hutang ini, memang memaksa pimpinan Inhutani V untuk lebih berkreasi dan berinovasi. Melihat persoalan bukan lagi permasalahan yang terus menerus diratapi, melainkan mengasah kemampuan melihat peluang bisnis di balik masalah dan sekaligus memberikan nilai tambah kepada perusahaan.

Alhasil, tercetus semangat untuk melakukan perubahan yang sangat cepat di tubuh perusahaan. Aplikasinya melakukan berbagai pendekatan, melalui dari aspek internal perusahaan, hingga hal yang berkaitan dengan pihak yang ketiga, terutama dengan masyarakat perambah yang sejak awal era reformasi telah menguasai sebagian besar wilayah kerja Inhutani V di Kabupaten Way Kanan, Tulang Bawang dan Kabupaten Pesawaran Propinsi Lampung.

Semua unsur manajeman Inhutani V diajak mengubah cara pikir untuk menilai bahwa masyarakat yang menguasai arel kerja Inhutani, bukan lagi sebagai perambah, melainkan sebagai mitra kerja yang diyakini mampu memberikan kontribusi nilai kepada perusahaan, “ kata Endro Direktur Utama PT. Inhutani V.

Tidak sebatas itu, terhadap merekapun dibangun pemahaman, sekalipun itu ancaman, namun itu bukan hal yang harus menjadi hambatan. Ancaman bisa dikelola menjadi peluang. Bila sebelumnya, ancaman merupakan cost centre, namun kini menjadi profit centre. Hanya memang dalam hal ini, manajemen harus turun tangan , mengawal dan memimpin perubahan tersebut. “ Kita tak ada pilihan lagi, dari suatu keniscayaan,” tandas Endro lagi.

Nah, gerakan perubahan inilah yang belakangan oleh Endro Siswoko disebut sebaga “Revolusi Bisnis ala PT Inhutani V “. Mengapa disebut demikian, karena ini suatu gerakan perubahan yang sifatnya mendesak demi menyelamatkan perusahaan. Karena tak ada lagi waktu menunggu, dan pilihanpun sangat terbatas.

Dalam kondisi perusahaan yang sangat kritis, terhadap karyawan ditanamkan pemahaman, bahwa semua masalah adalah prioritas. Dan penyelesainnya harus dilakukan secara bersamaan atau paralel. Namun bukan berarti, karena merasa semua prioritas, sehingga terjebak pada anggapan, bahwa masalah itu hal yang rutinitas saja. Sehingga lebih mengesankan tidak ada masalah. “ Bila dipandang seperti itu, dipastikan effort untuk menyelesaikan masalah itu tidak besar, tidak ada semangat totalitas .”

Karenanya, karyawan harus dapat melihat dan merasakan dengan cepat, selama proses perusahaan berlangsung. Perubahan harus menunjukan hasil yang lebih baik , dan tentu, going concern perusahaan pun hendaknya lebih jelas. Dengan demikian, karyawan akan memberikan respon positif, dan diyakini akan mendukung perubahan yang terjadi dan mengetahui secara pasti, arah yang dituju.

Mulai Meraup Untung

Alhasil sungguh luar biasa. Strategi manajemen Inhutani V membangkitkan kembali perusahaan yang sudah termasuk terpuruk dalam melaui pendekatan “Revolusi Bisnis “ tampaknya tidaklah sia-sia. Dalam perjalanan perusahaan dalam 5 tahun terakhir misalnya, kendati mungkin, belum tuntas betul persolalan itu terselaikan, tapi indikasi kondisi perusahaan sudah mulai membaik, kian tampak.

Hasil audit oleh Kantor Akuntan Publik atau Auditor Independen telah menunjukkan kinerja Inhutani V dalam kurun 2010 hingga 2014, berkembang cukup pesat. Bagaimana tidak, bila tahun 2010, Inhutani V masih merugi sekitar Rp. 8,8 miliar, tapi di tahun 2014, diprediksikan untung Rp. 15,8 miliar. Atau juga lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya, 2013 yang laba sebelum pajak, senilai Rp. 11,4 miliar.

Karena itu, bukan tidak ada alasan, bila sebuah majalah nasional “ INVESTOR “ terbitan Nopember 2014 XVI/257, telah menempatkan Inhutani V, dalam “ 50 BUMN TERBAIK “,” Peringkat 2 BUMN non keuangan “, dan Peringkat 1 BUMN Perkebunan dan Kehutanan “. Capaian kinerja ini dikarenakan terciptanya sinergitas manajemen dan karyawan dalam menyelesaikan persoalan dan hambatan pengembangan perusahaan.

“ Tantangan terberat perusahaan saat ini, mempertahankan momentum agar trend positif ini terus berlanjut hingga terwujudnya tujuan perusahaan, “ kata Endro. Kita harus keluar dari krisis multidimensional dan ketidak jelasan atau kepastian going concern perusahaan. “ Jika seluruh insan perusahaan sudah bulat keyakinannya, dan benar meyakini arah dan tujuan yang hendak dicapai, maka badai sehebat apapun akan dapat dilalui, hanya soal waktu kapan tujuan akhir itu akan tercapai, “ ujar Endro Siswoko.

Tachrir Fathoni pun “ mengaminkan “ apa yang dikatakan Endro Siswoko. Sebagai Komisaris Utama Inhutani V, Tachrir memuji berbagai langkah yang dilakukan manajemen dalam menyelesaikan persoalan perusahaan. Terlebih lagi mengetahui bahwa kinerja perusahaan 5 tahun terakhir, kian membaik, dari kategori perusahaan kurang sehat hingga sehat dengan skor kesehatan pada tahun 2014 ini, 78,45.

“ Tentu kami sebagai Komisaris Utama sangat mengapresiasi atas usaha manajemen hingga mampu keluar dari krisis multidimensi, “ kata kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan itu. Dan prestasi yang sangat besar, bahwa manajemen Inhutani V mampu menyelesaaikan persoalan yang berkaitan dengan perambahan areal kerjanya. Sungguh ini bukanlah persoalan yang mudah, dan sedikit perusahaan yang mampu keluar dari kemelut sengketa lahan. “ Kini pondamen perusahaan mulai kokoh, dan sudah sangat siap untuk tinggal landas “ ujar Tachrir Fathoni lagi.

Begitupun dengan Mustoha Iskandar Direktur Utama Perum Perhutani sekaligus sebagai Dirut Holding BUMN Sektor Kehutanan, dimana Inhutani V adalah bagian dari anak perusahannya, merespon positif atas membaiknya kinerja Inhutani V. Sebab bagi Mustoha, semakin baik kinerja anak perusahaannya, akan membuat beban induk berkurang. Justru sebaliknya, eksistensi Inhutani V, diharapkan menjadi penghela bagi holding dalam memekarkan usahanya.

Inhutani V dimata Mustoha adalah contoh yang baik bagi manajemen Inhutani lainnya. Sebab, sejak era reformasi, kondisi BUMN kehutanan, terutama Inhutani memang terpuruk dalam. Mereka kini hidup dalam gelimangan hutang yang diyakini tidak mungkin dibayar, tanpa melalui restrukturisasi hutang. “ Karenya dalam kapasitas holding kita mengajukan kepada pemerintah untuk merestrukturisasi hurang-hutang inhutani ini, “ ujar Mustoha.

 

SUMBER : MAJALAH TROPIS EDISI 07/TAHUN VII/DESEMBER 2014 HAL 41- 44